Analisis Laporan Keuangan

Laporan keuangan suatu korporasi umumnya meliputi Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Modal. Laporan keuangan ini digunakan untuk berbagai macam tujuan. Setiap penggunaan yang berbeda membutuhkan informasi yang berbeda pula. Bank untuk dasar pemberian kredit, akan memerlukan informasi yang berbeda  dengan calon investor. Demikian pula dengan pemerintah melalui kantor pajak atau ekonomi akan memerlukan data yang berbeda pula.

Analisis laporan keuangan yang menghasilkan informasi tenatng penilaian dan keadaan keuangan korporasi, baik yang telah lampau, atau saat ekspektasimya dimasa depan. Tujuan analisis ini adalah untuk mengidentifikasi setiap kelemahan dari keadaan keuangan yang dapat menimbulkan masalah di masa yang akan datang, serta menentukan setiap kekuatan yang dapat suatu keunggulan untuk menentukan tingkat kredibilitas atau potensi untuk investasi.

Analisis rasio keuangan merupakan alat utama dalam analisis keuangan, karena analisis ini dapat digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang keaadaan keuangan korporasi

Penggunaan Rasio Keuangan

Pada umumnya terdapat dua macam rasio standar digunakan. Pertama adala rasio yang sama dari suatu laporan keuangan dari tahun-tahun yang lampau. Yang kedua yaitu rasio korporasi lain yang mempunyai karakteristik yang sama dengan korporasi perusahaan yang dianalisis.  Standar rasio yang kedua ini lazim disebut rata-rata industri. Rasio keuangan dapat dikelompokkan ke dalam empat katagori yaitu : Rasio Likuiditas, Leverage, Efisiensi, dan Probabilitas.

  • Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas menunjukkan kemudahan relatif suatu aktiva untuk segera dikonversikan kedalam kas dengan sedikit atau tanpa penurunan nilai, serta  tingkat kepastian tentang jumlah kas yang dapat diperoleh. Kas merupakan suatu aktiva yang paling likuid, aktiva lain mungkin realatif likuid atau tudak likuid tergantung seberapa cepat aktiva ini dapat dikorvensikan kedalam kas, contoh : surat-surat berharga. Sedangkan  aktiva yang tidak likuid contoh : gedung, tanah termasuk aktiva yang tidak likuid karena tidak mudah untuk dijual. Untuk menjual gedung dan tanah tidak saja diperlukan kecocokkan harga, tetapi juga harus dicari pembeli yang berminat.

Komponen aktiva lancar, kas dan surat berharga dipandang sebagai aktiva yang likuid. Piutang mempunyai resiko serta struktur maturitas yang berbeda-beda. Untuk mengkonversikan piutang kedalam kas dibutuhkan suatu pembeli. Karena resiko dan maturitas yang ada didalam piutang , tentunya pembeli hanya mau membeli dengan harga yang lebih rendah daripada nilai piutang. Oleh karena itu untuk mengkonversikan piutang kedalam kas diperlukan potongan (discounted)  dari niali piutang, atau harus menunggu sampai piutang tersebut jatuh tempo. Dengan demikian piutang dipandang kurang likuid dibandingkan dengan kas dan surat-surat berharga lainnya.

Persediaan barang dipandang tidak lebih likuid dibandingkan piutang, pertimbangannya adalah bahwa persediaan barang cenderung untuk diperdagangkan pada pasar tertentu. Apabila korporasi mengalami kesulitan keuangan dan akan menjual barangnya, maka diperlukan pembeli yang tepat serta tawar-menawar hargayang cukup lama. Karena alasan inilah maka persediaan barang dipandang sebagai aktiva yang paling tidak likuid.

Aktiva tetap seperti; gedung, mesin,dan peralatan merupakan aktiva yang tidak likuid. Hal ini disebabkan harga jual dari aktiva tetap ini yang tidak tetap. Disamping itu diperlukan pembeli yang tepat yang berminat untuk membelinya pada nilai tetap tersebut.

Menentukan tingkat likiuiditas korporasi dipergunakan rasio likuiditas, antara lain:

  1. Current Rasio
  2. Quick Rasio
  3. Absolute Liquidity Rasio

Rumus dari ketiga rasio itu yaitu;

Current Rasio = Aktiva Lancar / Passiva Lancar

Quick Rasio = Aktiva Likuid + Piutang / Passiva Lancar

Absolute Liquidity Rasio = Aktiva Likuid / Passiva Lancar

Masing-masing rasio likuiditas ini mencerminkan persektif waktu yang berbedadalam mengukur kemampuan korporasi untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Current Rasio digunkan untuk mengukur kemampuan korporasi dalam memenuhi kewajiban jangka pendek, dengan asumsi bahwa semua aktiva lancar dikonversikan kedalam kas. Quick Rasio digunakan untuk mengukur hal yang sama dalam perspektif waktu yang lebih singkat. Sedangkan Absolute Liquidity Rasio mengukur kemampuan korporasi dalam waktuyang paling singkat karena hanya aktiva likuid saja yang diperhitungkan.

  • Rasio Pengungkit (Leverage Rasio)

Rasio Leverage digunakan untuk menjelaskan penggunaan hutang untuk membiayai sebagian dari padaaktiva korporasi. Pembiayaan dengan hutang yang mempunyai pengaruh bagi korporasi karena hutang mempunyai beban yang bersifat tetap. Kegagalan korporasi dalam membayar bunga atas hutang dapat menyebabkan kesulitan keuanganyang dapat berakhir dengan kebangkrutan korporasi. Tetapi penggunaan hutang juga memberikan subsidi pajak atas bunga yang dapat menguntungkan pemegang saham. Oelh karena itu penggunaan hutang harus menyeimbangkan antara keuntungan dan kerugiannya.

Pada dasarnya Rasio Leverage yang lazim digunakan adalah :

  1. Debt to Net Wort
  2. Coverage Interest Charges
  3. Total Assets to Net Wort
  4. Fixed Assets to Net Wort
  5. Current Assets to Net Wort
  6. Inventory to Net Wort
  7. Receivable to Net Wort
  8. Liquid Assets to Net Wort

Rumus dari masing-masing Rasio Leverage tersebut adalah:

Debt to Net Wort = Hutang Jangka Pendek + Hutang Jangka Panjang / Modal

Coverage Interest Charges = Laba Bersih Operasional / Bunga

Total Assets to Net Wort = Total Aktiva / Modal

Fixed Assets to Net Wort = Aktiva Tetap / Modal

Current Assets to Net Wort = Aktiva Lancar / Modal

Inventory to Net Wort = Persediaan Barang / Modal

Receivable to Net Wort = Piutang / Modal

Liquid Assets to Net Wort = Aktiva Likuid / Modal

Kedelapan rasio diatas, terdapat dua rasio yang mengukur kemampuan korporasi untuk membayar bunga dari penggunaan hutang. Sedangkan rasio lainnya harus melihat penggunaan leverage dari kewajiban yang tidak mempunyai beban bunga. Sebagai contoh: terdapat perbedaan antara Total Assets dan Net Worth yang tinggi menunjukkan penggunaan Leverage yang besar atau modal sendiri yang kecil. Rasio Total Assets to Net Worth ini juga menunjukkan seberapa besar resiko yang ditanggung oleh kreditur. Sehingga penggunaan rasio-rasio ini sangat berguna untuk mengukur keseimbangan antara tingkat likuiditas, kemampuan penagihan, tingkat persediaan, keseimbangan aktiva lancar, dan aktiva tetap dengan modal, serta total asset dibandingkan modal.

  • Rasio Efisiensi

Rasio Efisiensi dipergunakan untuk mrngatur seberapa efisien korporasi dalam penggunaan aktivanya. Rasio ini semuanya mempergunaakan perbandingan antara tingkat penjualan dengan investasi dalam beberapa aktiva. Asumsi yang diambil adalah menggunakan hubungan antara penjualan dengan berbagai akiva tersebut.

Dalam analisis efisiensi terdapat beberapa masalh ynag perlu diketahui. Pertama, penjualan dilakukan menurut harga jual pasar, sedangkan investasi dalam persediaan dicatat menurut harga pokoknya. Kedua, penjualan terjadi sepanjang periode (bulan atau tahun), sedangkan persediaan menunjukan posisi pada suatu tanggal tertentu. Penggunaan persediaan rata-rata antara awal dan akhir periode dalam analisis efisiensi persediaan akan lebih baik.

Rasio Efisiensiyang digunakan pada umumnya meliputi:

  1. Sales to Total Assets
  2. Sales to Fixed Assets
  3. Sales to Curent Assets
  4. Sales to Inventory
  5. Sales to Receivable
  6. Sales to Liquid Assets

Rumus-rumus yang digunakan untuk mengukur rasio efisiensi tersebut antara lain:

Sales to Total Assets =           Penjualan / Total Aktiva

ales to Fixed Assets  =            Penjualan / Aktiva Tetap

Sales to Curent Assets=        Penjualan / Aktiva Lancar

Sales to Inventory=                 Penjualan / Persediaan Barang

Sales to Receivable=               Penjualan / Piutang

Sales to Liquid Assets=          Penjualan / Aktiva Liquid

  • Rasio Profitabilitas

Pengukuran tingkat profitabilitas dapat dilakukan dengan membandingkan tingkat Return on Investment (ROI) yang diharapkan dengan tingkat return yang diminta para investor dalam pasar modal. Jika return yang diharapkan lebih besar dari pada return yang diminta, maka investasi tersebut dikatakan sebagai menguntungkan.

Nilai pasar suatu saham sangat tergantung kepada perkiraan dari “Expected Return” dan resiko dari arus kas dimasa yang akan datang. Penilaian arus kas ini merupakan proses dasar,disebabkan laporan keuangan tidak cukup menunjukan aktifitas korporasi dimasa mendatang. Dengan demikian, terdapat beberapa macam analisis profitabilitas yang didasarkan kepada laporan keuangan, dan sangat diperlukan oleh para Manager Keuangan sebagai informasi.

Rasio profitabilitas tergabung dari informasi akuntansi yang diambil dari laporan keuangan. Oleh karena itu profitabilitas dalam konteks analisis rasio, untuk mengukur pendapatan menurut laporan laba rugi dengan nilai buku investasi. Rasioprofitabilitas kemudian dapat dibandingkan dengan rasio yang sama dengan rasio korporasi lainnya pada tahun tahun sebelumnya, atau sering disebut rasio rata-rata industri. Rasio profitabilitas yang digunakan pada umumnya adalah:

  1. Net Profit Margin
  2. Return on Investment
  3. Return on Net Worth

Rumus-rumus yang digunakan antara lain:

Net Profit Margin                   =  Laba Bersih / Penjualan

Return on Investment           =  Laba Bersih / Total Aktiva

Return on Net Worth             =  Laba Bersih / Modal

Daftar Pustaka

Tampubolon, Manahan P., Manajemen Keuangan (Finance Management), Jakarta: Mitra Wancana Media., 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s